...

Kapita Selekta Hukum Islam (Fiqih Maqashid)

Manusia adalah maksud tertinggi dari segala ciptaan-Nya. Oleh karena itu, semua pembebanan shari’ah kepada manusia adalah untuk memelihara maksud-maksud-Nya. Maksud-maksud shari’ah yang telah diformulasikan Allah tersebut tidak keluar dari tiga bagian, yang digeluti oleh manusia, yaitu: Pertama, Al-Daruriyat, Kedua, Al-Hajiyat dan Ketiga Al-Tahsiniyah.
Di negeri kita, Perbincangan tentang bagaimana selayaknya warisan fiqh klasik disikapi bisa dibilang telah cukup lama. Hasbi As-Siddiqi bisa dianggap orang pertama yang membincang mengenai hal ini. Sejak tahun 1940-an ia telah menyuarakan pentingnya apa yang disebut Fiqh Indonesia. Gerakan Hasbi tersebut kemudian disusul oleh beberapa pemikir lain, semisal Prof. Hazairin, Munawir Syadzali sampai pada Sahal Mahfudz.
Masing-masing pemikir di atas muncul dengan tema masing-masing yang dapat dibedakan dari yang lain. Prof. Hazairin menemakan gagasannya dengan Fiqh Madzhab Nasional, Munawir Syadzali dengan Reaktualisasi Ajaran Islam, Sahal Mahfudz dengan Fiqh Sosial. Namun demikian, tetap ada benang merah yang merajut semuhttp://www.blogger.com/img/blank.gifa gagasan cemerlang itu, yakni ketidakmenerimaan secara mutlak atas warisan fiqh klasik dan perlunya penyesuaian dengan konteks ke-kini di sini-an.
Sampai disini, kami melihat masih ada peluang yang masih terbuka untuk juga ikut menyumbangkan gagasan dalam persoalan di atas. Kami melihat peluang itu dalam pengukuhan dan penegasan konsep maqashid shari'ah. Dalam makalah ini kami akan coba membahas secara singkat tentang sejarah fiqh maqashid, pengertian maqashid shari’ah, pembagian maqashid shari’ah, dan korelasi al-kulliyat al-khams dengan al-maqas{id.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download dibawah ini
http://www.4shared.com/office/OFWnyLpc/Fiqh_Maqashid.html

Silahkan Baca Selengkapnya...

Kapita Selekta Hukum Islam (Fiqih Lingkungan)

Hukum dalam masyarakat manapun, dibuat dengan tujuan untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan kehidupan dalam masyarakat. Ia merupakan sistem yang ditegakan untuk melindungungi hak individu maupun masyarakat secara luas. Di setiap tempat, sistem hukum tersebut memiliki sifat, karakter dan ruang lingkup sendiri. Dalam kaitan ini, Islam sebagai agama yang ajarannya universal, dalam arti mencangkup semua manusia di dunia dan juga memiliki sistem hukum sendiri yang dikenal dengan Fiqih.
Selama ini Fiqih dipahami sebagai bentuk kewajiban yang berhubungan dengan Allah (ibadah) dan kewajiban yang berhubungan dengan manusia dalam rangka menjamin ketertiban dalam masyarakat (muamalah). Disadari ataupun tidak, pemahaman umat Islam seperti ini telah meninggalkan salah satu aspek yang juga penting dalam rangka jaminan ketertiban dalam masyarakat, yaitu lingkungan. Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang universal harus dipahami secara lebih luas, buhttp://www.blogger.com/img/blank.gifkan hanya hubungan manusia dengan Allah ataupun dengan sesama manusia, tetapi juga dengan alam.
Atas alasan tersebutlah kami sebagai pembuat makalah merasa perlu untuk melakukan pembahasan secara khusus mengenai fiqih lingkungan, dengan tujuan supaya kita memahami bahwa fiqih mampu tetap bersambung dengan realita masyarakat kontemporer yang semakin kompleks. Adapun sistematika penulisan adalah sebagai berikut:
A. Latar Belakang dan Pengertian Fiqh Lingkungan
B. Urgensi Fiqih Lingkungan
C. Rumusan dan Pengembangan Fiqih Lingkungan

Untuk lebih lengkapnya silahkan download dibawah ini
http://www.4shared.com/office/NglJK4e1/Fiqh_Lingkungan__Fiqh_Biah_.html

Silahkan Baca Selengkapnya...

Kapita Selekta Hukum Islam (Fiqih Cinta)

BAB I
PENDAHULUAN
Barangkali jika tidak ada cinta, mungkin manusia tidak bakal hadir dan mendiami alam semesta ini. Ia ada dan wujud tidak lain karena hasil “racikan” cinta. Cintalah yang berjasa besar dalam proses pertautan batin dua anak manusia yang berlainan jenis untuk kemudian menyatukannya dalam ikatan cinta dan selanjutnya menghasilkan “manusia-manusia” hasil karya cinta. Cinta begitu sublim, begitu alami, sehingga begitu ia hadir dalam jiwa, maka yang nampak kemudian adalah keindahan, kedekatan, dan kebahagiaan. Tidak ada lagi jurang pemisah, yang ada justru kedekatan yang begitu dekat, sedekat bunga dengan kelopaknya, sedekat daun dengan tangkainya. Bahkan sedekat lebah dengan madunya atau mungkin lebih dekat dari itu.
Cinta, sejak dulu dan masa yang akan datang akan selalu menggema dalam relung hati makhluk yang bernyawa. Getar cinta telah menimbulkan gelombang gerak yang sangat dahsyat dalam diri pencintnya. Kata cinta terdengar begitu indah, melankolis, sentimental, puitis sekaligus dramatis atau terkadang bombastis yang semuanya menjadi adonan runyam serta renyah, sehingga kehadirannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, atau seandainya bisa, tentu akan kehabisan kathttp://www.blogger.com/img/blank.gifa-kata.
Cinta memang selamanya tidak berakhir dengan kebahagiaan. Ia kadang juga mampu membawa penderitaan bagi pelakunya. Terkadang pula karena cinta manusia merintih dan menangisi hidup sepanjang masa. Oleh karena itu dirasa perlu membahas tentang cinta agar cinta itu dapat membawa kebahagiaan bagi yang menjalaninya, dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimana pengertian Fikih dan Cinta?
2) Apakah yang dimaksud dengan pacaran?
3) Bagaimana proses-proses menuju pernikahan?
....untuk lebih lengkap nya silahkan download di bawah ini
http://www.4shared.com/file/YTiP0yg5/Fiqh_Cinta.html

Silahkan Baca Selengkapnya...

KAMU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA

Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka
Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir
Aku berpikir kau tuduh aku kapir
Aku harus bagaimana?

Kau bilang bergeraklah
Aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh toleran
Aku tolerah kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh maju
aku mau maju kau srimpung kakiku
Kaus suruh aku bekerja
Aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana:
Kau suruh aku takwa
Khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu
Langkahmu tak jelas arahanya
Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh menghormati hukum
Kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin
Kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai
Kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh membangun
Aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung
Aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah
Sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah
Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana?

Aku kau larang berjudi
Permainan spekulasinya menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab
Kau sendiri terus berucap Wallahu a'lam bissawab

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur
Aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar
Aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku
Sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku
aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana"
Kau bilang bicaralah
Aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara
aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah
Aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau
Kau tak mau
Aku bilang terserah kita
Kau tak suka
Aku bilang terserah aku
Kau Memakiku

Kau ini bagaimana ?
Aku harus bagaimana ?

Sumber : http://www.indowebster.web.id/archive/index.php/t-13633.html?s=e6f37930027b7cbb6b5b99335131177e

Silahkan Baca Selengkapnya...

Betapa Indahnya Hidup Ini Bila Saling Berbagi

Pada dasarnya kita adalah sama satu sama lain. Semua mendambakan sebuah perhatian baik anak-anak remaja dewasa sampai orang tuapun. Sering kita tahu banyak orang yang merasa sedih karena tak ada perhatian bahkan tak ada sedikit pun perhatian dari sesorang atau orang terdekatnya. Dimungkinkan karena beberapa hal yang terpaksa itu terjadi misalkan saja karena kesibukan, keterbatasan waktu, menganggap bahwa mereka tidak penting dalam hidupnya, karena mereka berposisi dibawahnya ataupun karena lupa. Inilah yang menjadi hambatan kita untuk memberikan semangat kepada orang terdekat kita, yang sebenarnya itu sanhat di dambakan oleh setiap insan.

Mendapat perhatian adalah suatu hal yang yang amat sangat bermakna dan sangat membahagiakan. Seorang anak mendapat perhatian dari orang tuanya, remaja yang sedang jatuh cinta ingin mendapat perhatian dari sang pujaan hatinya yang selalu memperhatikan dan mendampingi dalam segala aktifitasnya, saling berbagi di antaranya, seorang istri ingin selalu diperhatikan suaminya dalam segala hal, begitu juga orang tua ingin selalu diperhatikan anak-anaknya.

Kebahagian sangatlah berharga yang tidak dapat di nilaikan dengan uang. Kebahagiaan tidak dari kemewahan yang kita punya. Namun kebahagiaan adalah perasaan hati yang tentram, aman, damai dalam segala hal tanpa ada kegundahan dan hati yang tulus yang saling memberi perhatian.

Bahwasanya kita sangat membutuhkan perhatian dalam kehidupan ini, dan jangan lupa kita selalu memmebrikan perhatian kepada orang-orang disekitar kita.dengan inilah hidup kita akan menjadi sangat bernakna bahwa "Betapa Indahnya hidup Ini bila saling berbagi".

Silahkan Baca Selengkapnya...

Semua Adalah Pilihan

“Tak ada yang saya salahkan...,” suaranya mengambang, seakan datang dari negeri yang jauh. “Kecuali diri saya sendiri!”
Aku terdiam, tenang mendengarkan. Sementara mata kami melanglang buana, melahap semua keindahan ciptaan Ilahi yang terpampang hingga batas cakrawala. Punggung bukit yang berhias kerlap-kerlip lampu berwarna jingga, kemerahan, kebiruan, orange dan kuning itu membawa sensasi luar biasa bagi pupil mata.
“Kondisi yang harus saya jalani saat ini, adalah konsekuensi dari pilihan hidup saya sendiri,” suaranya terdengar lagi. Aku masih khusyuk memperhatikan, sambil menikmati udara senja pegunungan yang menyelusup ke seluruh pori-poriku. Sejuk menyegarkan. Kawasan puncak menjelang malam, indah nian.
“Ketika saya baru lulus kuliah dulu, sebenarnya saya sudah ditawari untuk menikah. Namun waktu itu tegas-tegas saya menolak dengan alasan saya mau bekerja dulu, mencoba mempersembahkan sedikit bakti bagi orang tua --yah, meskipun saya tahu itu semua tak akan pernah dapat membalas jasa mereka--. Juga karena saya merasa masih ada dalam diri saya yang harus dibenahi. Harus saya akui, saya adalah tipe seorang dengan jiwa yang selalu gelisah. Rasanya saat itu, saya belum siap untuk berumahtangga, karena masih begitu banyak yang ingin saya lakukan, bagi diri sendiri dan bagi orang lain,” sahabat saya tersenyum kecil, matanya tak lepas dari kejauhan.
“Dua tahun kemudian, kembali datang tawaran menikah. Kebetulan saat itu saya memang sudah mulai berpikir untuk menikah. Dari banyak tawaran yang datang, yang paling serius adalah seorang pemuda biasa, tetangga kampung. Sementara saat itu saya adalah seorang gadis muda dengan semangat keislaman yang sangat tinggi. Saya mensyaratkan dia harus mau ngaji dulu sebelum menikah dengan saya. Dia tak sanggup. 'Aku mencari istri, bukan mencari orang yang menyuruhku ngaji,' katanya. Sedang saya tetap berkeras pada syarat yang saya minta. Maka proses pun berhenti di langkah itu dan hidup pun kembali berjalan pada pilihan masing-masing. Perasaan saya biasa saja saat itu. Waktu itu saya berpikir toh saya masih sangat muda, dua puluh empat tahun. Jadi, enjoy aja,” Wanita muda itu menarik napas ringan sebelum melanjutkan.
“Menjelang usia dua puluh lima, datang lamaran lagi dari seorang laki-laki yang cukup saya kenal. Kali ini saya suka. Dia adalah pemuda tipe ideal saya. Maka serta merta saya terima. Tapi ternyata proses ini pun gagal lagi pada akhirnya. Orang tuanya menginginkan dia menikah dengan orang yang sesuku,” suaranya bergetar. Ada jeda kesedihan yang tiba-tiba menyeruak.
”Saya sangat terluka dengan penolakan ini, hingga memilih melarikan diri pada aktifitas sosial yang sangat banyak. Mendampingi anak jalanan, mengadakan berbagai bakti sosial, dan ikut menjadi relawan dalam penanganan bencana-bencana di Jakarta. Saya  nyaris tak pernah di rumah. Karena selain aktifitas-aktifitas tadi, aku juga tetap bekerja. Bahkan kemudian saya sangat menikmati aktifitas yang mulanya pelarian ini. Saya seperti menemukan apa yang pernah saya inginkan selama ini.”
Kulihat bara semangat itu pada sorot matanya, pada wajah yang ditegakkannya.
“Di tengah gelora semangat itu, menjelang usiaku dua puluh enam, datang lagi sebuah lamaran. Kali ini dari seorang pemuda shalih yang baik, kalem dan pendiam, meskipun dia bukan aktifis. Seseorang yang belum pernah saya kenals ebelumnya. Saya yang tak mau kehilangan aktifitas yang sedang saya jalani, kembali mengajukan syarat, agar diijinkan tetap beraktifitas seperti semula. Sebenarnya dia tak menghalangi sepenuhnya. Dia hanya mengatakan, boleh saja beraktifitas, tetapi sebagai seorang istri harus mendahulukan kepentingan keluarga dan minta izin suami jika akan keluar rumah. Pernyataan itu saya tangkap sebagai 'larangan' waktu itu. Barangkali karena saya memimpikan mendapat pasangan sesama aktifis, seperti maraknya beberapa teman organisasi yang menikah dengan kalangan sendiri. Hhhh..., ” kali ini si Mbak menarik napas panjang. “Saya menolaknya!” Suaranya kembali tergetar.
“Inilah proses yang paling saya sesali, hingga saat ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya merasa sangat kekanak-kanakan. Sebenarnya apa sih yang saya inginkan? Dulu ketika baru lulus, saya beralasan hendak bekerja dulu dan beraktifitas. Itu sudah saya jalani semua. Ketika ada laki-laki biasa melamar, saya bilang saya ingin mendapat mendapat seorang ikhwan, dan kini Allah pun menghadirkannya. Sekarang? Saya menginginkan menikah dengan sesama aktifis yang benar-benar bisa memahami aktifitas publik saya. Sepertinya saya tidak bersyukur dan terus menerus mencari yang seperti saya inginkan saat itu.” Dalam temaram lampu taman, aku dapat melihat kaca di bola matanya. Kugenggam tangannya, memberi kekuatan.
“Kesadaran bahwa pilihan dan sikap saya adalah kekeliruan, muncul tak lama kemudian. Hanya dua bulan setelah dia melamar. Kepada comblang yang mempertemukan kami, saya mengatakan ingin mencoba memperbaiki keputusan yang telah lalu. Namun semua sudah terlambat. Laki-laki itu tak lama lagi akan menikah.” Kaca itu pecah, menjadi butiran-butiran kristal yang mengaliri pipinya.
“Rasa bersalah itu pun kian mendera perasaan. Saya mencoba menebus rasa bersalah itu dengan bersilaturahmi kepada sebanyak mungkin orang. Kepada kaum kerabat yang jarang saya kunjungi, kepada teman-teman lama yang mulai terlupakan karena aktifitas-aktifitas baru saya. Juga kepada guru-guru masa kecil. Saya tak tahu mengapa itu cara yang saya lakukan untuk menebus rasa bersalah, yang pasti saya hanya berharap, silaturahmi-silaturahmi itu dapat menjadi kafarat.” Si Mbak tersenyum lagi. Ada kelegaan tergambar di wajahnya.
“Peristiwa itu membuat saya menjadi lebih dewasa. Saya mulai bersungguh-sungguh mencari pasangan hidup. Saya menghargai setiap tawaran yang datang. Bahkan saya juga minta tolong pada teman-teman untuk mencarikan.” Wajahnya meredup lagi. “Saya tak pernah menolak lagi siapapun yang diajukan kepada saya, baik oleh guru ngaji, lewat teman-teman. Ataupun calon dari orang tua. Namun yang terjadi kemudian adalah bagai karma! Kali ini giliran saya yang terus menerus ditolak. Telah belasan orang dalam tiga tahun terakhir sejak saya menolak lamaran pemuda shalih itu. Bahkan termasuk teman-teman dekat saya sendiri, mereka menolak dengan halus tawaran saya untuk menikah dengan mereka.” Suaranya begitu lirih, tercekat menahan tangis.
“Akhirnya saya merasakan juga sakitnya ditolak. Berkali-kali!” Perempuan itu kini tergugu. Lama. Dia menelungkupkan wajahnya di bangku taman. Aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengelus kepalanya yang terbungkus jilbab biru. Waktu terus berlalu dalam keheningan. Hanya isak tangis tertahannya yang terdengar, ditingkahi lolong anjing di kejauhan. Aku tak menghitung berapa lama dia menuntaskan gundahnya sampai kemudian dia bangkit, menuju serumpun shion yang tengah mekar.
“Mungkin orang akan mengatakan, itulah akibat dari menolak-nolak orang. Jadi perawan tua. Itu adalah konsekuensi yang tak hendak saya ingkari. Saya harus menerima predikat itu. Karena memang demikianlah adanya. Dan kini saya mendapatkan sudut pandang yang lain: bisa jadi sikap-sikap saya dulu, dan pilihan-pilihan itu memang sebuah kesalahan.” Dia menghela napas. Tegar.
“Tapi ada satu hal yang saya syukuri. Semua peristiwa itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Sungguh-sungguh berharga. Kini saya tahu seperti apa perihnya ditolak. Kini saya sangat paham, manusia hanya dapat berencana, sedang Allah lah yang Maha Penentu. Kini saya mengerti, sangat mengerti bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang diberikanNya adalah selalu yang kita butuhkan, meski mungkin bukan yang kita inginkan. Kini saya juga jadi lebih dapat menghargai setiap orang. Bahwa siapapun dia, setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Penghargaan kita yang tulus padanya akan berbalas perhatian pula.” Wanita itu tersenyum. Kedamaian mengaura pada dirinya.
“Saya tak menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu. Saya mungkin kehilangan kesempatan-kesempatan itu, namun saya tidak kehilangan hikmah dan pelajarannya. Barangkali memang harus demikian pergolakan jiwa dan perjalanan batin saya. Barangkali memang ahrus dengan cara itu saya dapat menjadi lebih matang. Kalau waktu itu saya menikah dengan jiwa yang seperti itu, mungkin juga tidak baik hasilnya. Saya mungkin menikah dengan kondisi terpaksa, dan saya tak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangga seperti itu Mungkin saya tak akan pernah mendapat hikmah-hikmah ini. Saya bahagia sekarang karena saya dapat merasakan ketulusan itu. Kini saya sangat siap untuk menerima pasangan hidup, siapapun dia.”
“Bukan! Sama sekali bukan berarti saya banting harga karena saya sudah 30 tahun hingga segala idealita yang dulu digugurkan,” dia buru-buru menambahkan. Seakan-akan takut kalimatnya akan langsung dipersepsikan lain. Saya mengerti karena kebanyakan seperti itu anggapan masyarakat terhadap para wanita lajang yang sudah beranjak lewat dari usia dua puluhan. Mereka seakan berlomba mengobral dirinya agar dapat menikah segera.
“Tetapi karena pengalaman telah mengajarkan saya banyak hal. Tetapi karena saya tidak lagi emosional sekarang. Bukan karena kehilangan idealita. Dan itu membuat saya bisa menerima siapa saja sekarang, karena saya kini mengerti arti sebuah ketulusan. Hingga saya dapat menghargai setiap orang, lebih dan kurangnya. Juga, saya pun tahu dan berlapang dada, jika Allah masih menimpakan akibat dari sikap-sikap saya di masa lalu. Semoga kesadaran ini akan menjadi kafarat dosa-dosa saya.”
Wanita itu kini menatapku lembut. Wajahnya bercahaya tertimpa sinar lampu taman. Dia tersenyum, dengan senyuman bagai rembulan. Aku membalas senyumnya. Sementara angin malam makin menggigit tulang. Bulan sepasi yang menggantung di langit menandakan bahwa tengah malam telah jauh berlalu. Pemandangan puncak di waktu malam makin indah, namun kini tiba saatnya kami harus beristirahat. Hidup harus terus berjalan, dan kami tak boleh terlampau sering menoleh ke belakang, kecuali sekedar mengambil pelajaran. Bukan untuk bersedih atas semua yang telah lalu.
Bergandengan tangan, kami bangkit dan melangkah ke dalam vila yang kami tinggali. Sekali lagi lolong anjing terdengar di kejauhan. Namun itu tak berarti apa-apa. Yang kami punya sekarang tekat, untuk terus memperbaiki diri dan jiwa. Orang muslim yang paling baik bukanlah mereka yang tak pernah berbuat kesalahan. Namun mereka yang tiap kali berbuat kesalahan dia sadar dan berusaha bertaubat kemudian memperbaikinya.

Azimah Rahayu
Publikasi: 25/05/2004 10:46 WIB
(@Azi, 15mei tengah malam, revisi 17mei pulang dari puncak)

cat:
dikutip dari koleksi ebook teman tanpa menguragi makna,dan sayatidak tahu sumber aslinya


Silahkan Baca Selengkapnya...

Tips Agar UN Lancar

Bagi kawan-kawan yang besok akan meaksanakan UN siapkan mental anda sebaik-baiknya demi kesuksesan. Kesuksesan ada di tangan anda, dan ini ada Tips buat anda yang saya copy dari okezone silahkan simak baik-baik semoga bermanfaat.

- Menjelang hari pertama UN, tidurlah lebih cepat dari biasanya agar kondisi tubuhmu bugar dan tidak mengantuk ketika mengerjakan soal-soal ujian.

- Cek dan siapkan lagi semua peralatan tulis menulis yang akan kamu gunakan ketika ujian. Selain kartu ujian, pastikan kamu telah memiliki pinsil 2B, penghapus pinsil, rautan pinsil, balpoin, mistar, dan alas tulis. Siapkan juga jam tangan untuk menghitung waktu ujian di kelas.

- Pada hari ujian, sebaiknya kamu bangun pagi-pagi agar tidak terlambat ujian. Usahakan tiba di sekolah setidaknya 30 menit sebelum ujian dimulai. Sempatkan sarapan dan jangan lupa meminta restu kedua orangtuamu sebelum berangkat sekolah.

- Ketika sudah menerima soal, teliti berkas soalmu. Pastikan tidak ada soal yang kurang, atau berkas soalmu rusak.

- Jangan sampai salah menuliskan data diri dan kode soalmu di lembar jawaban. Cek lagi, ya!

- Tenangkan diri, dan bacalah doa sebelum mengerjakan soal-soal ujian. Mengerjakan soal dengan tenang akan membuatmu lancar menjawab soal. Jika kamu tegang, biasanya konsentrasimu justru akan buyar.

- Jaga lembar jawaban UN-mu tetap bersih, tidak terlipat, basah, sobek, rusak, dan jangan juga mencorat-coret lembar jawabanmu. Lembar jawaban yang kotor atau rusak akan menyulitkan komputer dalam proses pemindaian. Yang rugi kamu juga, kan?

- Sebelum mengumpulkan lembar jawaban ke pengawas, pastikan kamu sudah menjawab semua soal ujian. Yang lebih penting, pastikan juga data dirimu seperti nama, nomor ujian, kode sekolah, dan kode soal telah benar.

- Terakhir, pastikan lembar jawabanmu telah diterima pengawas sebelum kamu meninggalkan ruang ujian.

Okezone.com

Silahkan Baca Selengkapnya...

Jangan Lupa Kunjungi Di Bawah Ini

Follow

Komentar Terbaru

ASPIRASI © 2008 Template by Dicas Blogger Supplied by Best Blogger Templates

Back To Top