...
Showing posts with label Religius. Show all posts
Showing posts with label Religius. Show all posts

Menjaga Virginitas Itu Penting

Menjaga virginitas dapat di artikan yaitu menjaga kegadisan dan kejejakaan atau tidak melakukan hubungan seksual antara lawan jenis sebelum pernikahan yang sah. Dan hal ini sangatlah penting buat semua terutama untuk kaum hawa atau perempuan untuk masa depan tanpa berfikir panjang rela melepaskan keperawananya karena berbagai godaan. Orang mengoda itu lebih pinter kalau kita tidak bisa menahannya. kita harus mempunyai sejuta kontrol untuk menghadapi itu semua, makanya kita harus berhati-hati kalau mengenal seseorang.

Menjaga virginitas sesuatu yang jelas ditekan kan oleh Islam, namun selayaknya kita ketahui bahwa menjaga virginitas dalam pandangan Islam bukan semata-mata faktor fisik saja, persoalan virginitas tak sekedar persoalan selaput dara, namun lebih dari itu ia juga berkaitan dengan pergaulan dan budaya pergaulan terhadap lawan jenis.

Seorang cewek yang sudah tidak virgin bisa di lecehkan oleh seseorang dan di angap remeh walaupun mereka tidak tau apa yang menyebabkan hilangnya virgin seseorang itu. Allah SWT menciptakan keperawanan pada seorang perempuan untuk memberitahu pada manusia bahwa perempuan itu adalah barang berharga, artinya begitu istimewanya seorang wanita di mata lelaki ketika ketika mereka menemukan wanita itu masih perawan.

Oleh karena itu, menjaga virginitas (keperawanan) dan juga (kejejakaan) bagi remaja muslim baik laki-laki maupun perempuan adalah suatu keharusan, karena itu seorang gadis muslimah yang lebih baik adalah yang lebih bisa menjaga diri dari godaan syahwat terhadap lawan jenisnya, begitu juga halnya dengan seorang perjaka muslim.

Mendekati zina pun Allah melarang, apa lagi sampai melakukan zinanya, hal apa saja yang mendekati zina itu tentu tidak usah di uraikan karena kita sudah pada dewasa dah mengerti mana yang hak dan mana yang batil. Banyak dalil yang menjelaskan larangan zina di antaranya Allah berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Israa’: 32

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk (Al-Israa’: 32)

Islam mengharamkan perzinaan dan segala hal yang bisa menjurus terjadinya zina, sebagaimana pula Islam mewajibkan agar laki-laki muslim dan wanita muslimah untuk menjaga kehormatan mereka hingga mereka memasuki pernikahan dalam keadaan bersih, dan begitu mereka telah memiliki pasangan hidup yang sah wajiblah mereka untuk hanya berhubungan dengan pasangannya tersebut.

Ketika Allah mengharamkan berzina maka untuk menghindari itu maka di wajibkan menikah dahulu sebelum berhubungan, ketika sudah menikah maka itu menjadi halal. Dimana yang sebelumnya hukumnya haram ketika sudah menikah maka hukumnya menjadi wajib karena termasuk melayani dengan baik dan termasuk kewajiban suami istri. Allah berfirman dalam Al-Quran surat An-Nisa’: 19 yang intinya Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim.

Dengan demikian marilah kita melapangkan dada untuk berfikir betapa pentingya masa depan lebih lebih di akherat kita. say no to drugs and sex before married

artikelislami.com dan berbagai sumber lain.

Silahkan Baca Selengkapnya...

40 Manfaat Shalat Berjamaah di Masjid/Musholla

Subhanallah sungguh besar manfaat dari sholat berjamaah, walapun saya sendiri belum mampu menjalankannya dengan sepenuhnya, dan semoga bisa cepat bisa menjalankanya, namun aku akan berbagi ilmu yang saya dapatkan dari catatan facebook "kembang anggrek" aku copy paste, jika ingin yang lebih lengkap silahkan kunjungi sumber aslinya di "Kembang Angrek". Dan ini lah 40 Manfaat Shalat Berjamaah di Masjid/Musholla :

  1. Mematuhi perintah Allah
  2. Sebagai saksi keimanan
  3. Mendapat tajkiah (Pernyataan Kesucian) dan Anugerah Besar dari Allah
  4. Mengagungkan dan menekankan apa yang diagungkan dan ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam
  5. Mematuhi perintah Rasulullah
  6. Selamat karena mengikuti Rasul
  7. Sholat berjamaah termasuk sasaran Islam yang Agung
  8. Mengagungkan dan menampakkan syi'ar Allah
  9. Termasuk sunnah petunjuk
  10. Lebih utama dari shalat sendirian
  11. Lebih suci di sisi Allah daripada shalat sendiri
  12. Menjaga diri dari setan
  13. Jauh dari menyerupai orang-orang munafik
  14. Diantara sebab datangnya Ridho Allah
  15. Ta'ajub Allah
  16. Berpahala besar karena berjalan untuk menunaikannya
  17. Berkumpulnya para Malaikat pada waktu shalat shubuh dan ashar serta permohonan ampun mereka bagi yang hadir
  18. Menyamai shalat separuh malam atau sepanjang malam (khusus Isya dan SUbuh)
  19. Berada dalam jaminan Allah
  20. Berada dalam naungan Allah pada Hari kiamat
  21. Bebas dari Neraka dan bebas dari sifat munafik
  22. Mendapatkan shalawat dari Allah dan para Malaikat
  23. Mendapatkan Rumah di Surga
  24. Mendapatkan pahala berjamaah meskipun telah selesai dikerjakan
  25. Sempurnanya shalat
  26. Amal paling utama
  27. Selamat dari neraka Wail
  28. Selamat dari kelalaian
  29. Doanya tidak ditolak
  30. Persaudaraan, kasih sayang dan persamaan
  31. Menjaga shalat-shalat sunnah Rawatib dan Dzikir
  32. Memahami hukum-hukum shalat
  33. Membiasakan disiplin dan menguasai diri
  34. Menampakkan kekuatan umat Islam dan membuat kesal orang-orang kafir dan munafik
  35. Memperbaiki penampilan dan jati diri
  36. Saling mengenal dan memperkenalkan diri
  37. Berlomba-lomba dalam ketaatan kepada Allah
  38. Terjaganya kepribadian yang baik
  39. Adanya perasaan berdiri dalam suatu barisan Jihad
  40. Menghadirkan perasaan apa yang terjadi pada Zaman Nabi Muhammad SAWdan para Sahabatnya

Sumber : Serial Buku Darul Haq Ke-6
Ada 40 manfaat shalat berjamaah
Abu Abdillah Musnid al-Qathani

Silahkan Baca Selengkapnya...

Keutamaan Puasa Arafah

Tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki hari raya Idul Adha 1431 H. Pada bulan Dzulhijjah juga ada hari yang sangat istimewa yang dikenal dengan istilah hari nahr. Yaitu hari kesepuluh di bulan tersebut, di saat kaum muslimin merayakan Idul Adha dan menjalankan shalat Id serta memulai ibadah penyembelihan qurbannya, sementara para jamaah haji menyempurnakan amalan hajinya. Begitu pula hari-hari yang datang setelahnya, yang dikenal dengan istilah hari tasyriq, yaitu hari yang kesebelas, keduabelas, dan ketigabelas.

Allah SWT mengkhususkan hari-hari tersebut sebagai hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir. Dan hari-hari itulah yang menurut keterangan para ulama adalah hari yang disebutkan dalam firman Allah SWT :
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (Al-Baqarah: 203)

Dan Nabi SAW juga menyebutkan tentang hari-hari tersebut:
“Hari-hari Mina (hari nahr dan tasyriq) adalah hari-hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim).

Namun sebelum tanggal 10 dzulhijah kita di sunahkan untuk berpuasa sunah yaitu puasa Arafah. Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan tanggal 9 Dzulhijah bagi yang tidak sedang melakukan ibadah haji. Mengenai keutamaan puasa Arafah ini, Rasullulah SAW bersabda:
“Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang lepas dan akan datang. Dan puasa Assyura (10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas”. (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.

Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Nabi SAW tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.”

Dan pada tanggal 8 Dzulhizah (Tarwiyah) juga ada keterangan yang menyebutkan di Sunahkan puasa tarwiyah. Riwayat yang menyebutkan, “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.” Ibnul Jauzi, Asy Syaukani, dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).
(buletin.muslim.or.id dan berbagai sumber)

Silahkan Baca Selengkapnya...

Bulan Ramadhan

Sudah sekian lama tidak menjamah blog akhirnya kini bisa hadir lagi dengan postingan yang agak ngawur sambil memeriahkan bulan ramadhan yang insyallah penuh barokah ini. Dan saya ucapkan " Marhabban Ya Ramadlan"buat semua umat muslim. Bulan Puasa adalah bertepatan pada bulan ke - 9 pada tahun hijriah. Tahun Hijriah adalah tahun yang adil. Seperti bulan ramadhan tidak mesti musim panas dan juga tidak mesti musim dinggin, ini merupakan suatu wujud keadilan.

Kenapa di sebut bulan ramadhan? dilihat dari pengertiannya adalah artinya panas / membakar, ada 2 hal dalam bulan ramadhan di antaranya adalah :

  1. Panas karena musim panas
  2. Membakar karena dengan puasa dapat membakar dosa-dosa kita

Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci dan penuh ampunan yang di dalamnya mempunyai kelebihan di banding bulan-bulan lainya, di antaranya
  1. Bulan ramadhan adalah bulan yang paling mulia
  2. Shalat 5 waktu pada bulan ramadhan bisa menghapus dosa kecuali dosa besar
  3. Siang dan malam pada bulan ramadhan adalah penuh ampunan
  4. Rasulullah pada bulan sya'ban selalu mengingatkan untuk bersiap-siap untuk menyambut ramadhan
  5. Ada 1 malam yang nilainya sama dengan 1.000 malam di bulan ramadhan
  6. Siapa yang mengerjakan sunah di bulan ramadhan maka akan di beri pahala seperti pahala fardhu, dan apabila mengerjakan Fardhu di bulan ramadhan maka akan dilipat gandakan pahalanya menjadi 70 kali.

Keutamaan beramal di bulan ramadhan di antaranya :
  1. Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
  2. Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa't.
  3. Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah.

Cara Menetapkan awal dan akhir bulan ramadhan
  1. Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru'yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil ( dapat dipercaya ).
  2. Jika bulan sabit ( Hilal ) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya'ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari.
  3. Pada dasarnya ru'yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ' Ala Minhaajinnabiy sudah tegak.
  4. Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru'yah yag nampak di negeri masing-masing. ( ini hanya pendapat sebagian ulama).

Silahkan Baca Selengkapnya...

Happy New Year 2010

Aspirasi mengucapkan Selamat Tahun Baru 2010, Setelah Seminggu yang lalu kita juga memasuki Tahun baru 1431 H, sekarang kita akan memasuki tahun baru 2010 M. Sejuta harapan menuju masa depan yang lebih baik.

"Tomorrow will be better" kalimat yang sederhana ini yang harus menjadi target kita untuk membangkitkan semangat baru dan memberikan rasa optimis bahwa "besok akan lebih baik" yang akan menjadi harapan.

Disebutkan dalam Hadis Rasulullah yang sangat populer, ”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung, bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.”

Sesuai dengan firman Allah: ”Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat) dan bertakwalah, sesungguhnya Allah maha tahu dengan apa yang kamu perbuatkan”. (QS. Al-Hasyar: 18).

Dari sinilah dapat di ambil hikmah hijrah menuju perubahan dan harapan yang lebih baik harus kita capai. Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, menjadi harapan baru kita yang lebih baik. hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Kita harus mampu mengubah perilaku buruk menjadi baik, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kegagalan bukan merupakan akhir dari perjuangan, tetapi merupakan jalan untuk menggapai tujuan. Apa yang telah kita usahakan yang belum berhasil pada hari ini masih ada harapan untuk berhasil pada keesokan harinya. Kegagalan kita pada hari kemarin masih dapat kita perbaiki pada hari esok.

Sekali lagi "Happy New Year 2010" Untuk teman-teman, kerabat, sabahat, saudara dan semuanya, semoga di tahun 2010 harapan, cita, ambisi atau apapun itu namanya bisa terwujud dan terpenuhi. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi langkah kita, mengampuni dosa kita setahun yang beralu dan setahun yang akan datang. Amin.

"Buka Semangat Baru, Dan Sukses Selalu"

Gambar : Bulan Sabit(Gogle)

Silahkan Baca Selengkapnya...

Puasa Sunah DI Bulan Muharram / Asyura

Puasa selain merupakan ibadah yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala juga mengandung sekian banyak manfaat yang lain. Dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya. Dan puasa juga menjadi perisai dari api neraka. Puasa juga dapat menghapus dosa-dosa dan memberi syafaat di hari kiamat. Dan puasa juga dapat membangkitkan rasa solidaritas kemanusiaan, serta manfaat lainnya yang sudah dimaklumi terkandung pada ibadah yang mulia ini.

Pada bulan Muharram ada satu hari yang dikenal dengan sebutan hari ‘Asyura. Orang-orang jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Hal tersebut karena pada hari ini Allah Subhanahu wa Ta'ala selamatkan Nabi Musa 'alaihissalam dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Bersyukur atas karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadanya, Nabi Musa 'alaihissalam akhirnya berpuasa pada hari ini. Tatkala sampai berita ini kepada Nabi kita Shallallahu 'alaihi wassalam, melalui orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah beliau bersabda,

فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ
“Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi)”.
Yang demikian karena pada saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam sampai di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah berpuasa pada hari ini, maka beliau sampaikan sabdanya sebagaimana di atas. Semenjak itu beliau Saw memerintahkan ummatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura diantara ibadah yang disukai di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadhan belum diwajibkan.
Adalah Abdullah bin Abbas radiyallahu 'anhu yang menceritakan kisah ini kepada kita sebagaimana yang terdapat di dalam Shahih Bukhari No 1900,
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Tatkala Nabi Saw datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu 'alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa 'alaihissalam berpuasa pada hari ini. Nabi Saw bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. HR Al Bukhari

Dan dari Aisyah radiyallahu 'anha, ia mengisahkan,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
“Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. HR Al Bukhari No 1897

Keutamaan puasa ‘Asyura di dalam Islam

Di masa hidupnya Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau Shallallahu 'alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnyaShallallahu 'alaihi wassalam . Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu 'anhuma, ia berkata,
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ
“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini. Oleh karena itu ketika beliau Shallallahu 'alaihi wassalam ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan, beliau menjawab bulan Allah Muharram. Dan Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.

Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Ra,
وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ
“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.

Hukum Puasa ‘Asyura

Sebagian ulama salaf menganggap puasa ‘Asyura hukumnya wajib akan tetapi hadits ‘Aisyah di atas menegaskan bahwa kewajibannya telah dihapus dan menjadi ibadah yang mustahab (sunnah). Dan Al Imam Ibnu Abdilbarr menukil ijma’ ulama bahwa hukumnya adalah mustahab.

Waktu Pelaksanaan Puasa ‘Asyura

Jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari ‘Asyura adalah hari ke-10 di bulan Muharram. Di antara mereka adalah Said bin Musayyib, Al Hasan Al Bashri, Malik, Ahmad, Ishaq dan yang lainnya. Dan dikalangan ulama kontemporer seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah. Pada hari inilah Rasullah Saw semasa hidupnya melaksanakan puasa ‘Asyura. Dan kurang lebih setahun sebelum wafatnya, beliau Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda,
لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ
“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”

Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam , “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram..

Dan Al Imam Asy-Syaukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan. Yang pertama puasa di hari ke 10 saja, tingkatan kedua puasa di hari ke 9 dan ke 10 dan tingkatan ketiga puasa di hari 9,10 dan 11. Wallahua’lam.

(Dikutip dari tulisan al Ustadz Ja'far Shalih. Judul asli SUNNAH PUASA 'ASYURA. URL Sumber http://www.ahlussunnah-jakarta.org/detail.php?no=176)
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=1136


Silahkan Baca Selengkapnya...

Foto Menakjubkan, Embrio Berbagai Jenis Hewan Dalam Kandungan

Foto - foto ini saya ambil dari ruanghati.com. Dan diambil dari sebuah acara di National Geographic yang dipandu oleh Peter Chinn kita bisa menyaksikan bagaimana rupa dan bentuk berbagai jenis hewan semasa embrio dalam kandungan sang induk, mulai dari embrio gajah, embrio anjing, kucing, pinguin, lumba-lumba (Dolphin) hingga embrio ikan hiu.












Sungguh besar kuasa Illahi yang mengatur fase-demi fase kehidupan semua mahluk hidup di dunia tanpa kecuali.

sumber : http://ruanghati.com

Silahkan Baca Selengkapnya...

Benarkah Bulan Pernah Terbelah?

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar pertanyaan “Apakah benar bulan itu pernah terbelah?”. Dan apakah hal itu masuk akal ?. Lalu apa yang terjadi kalau bulan Terbelah? , Tetapi semua itu benar atau tidak, masuk akal atau tidak sudah tiada pilihan lain untuk menolaknya. Karena sebuah penolakan adalah sebuah jawaban sedekat apa Iman kita pada kebenaran itu.

Dalam Al-Qur'an Surat Al-Qamar ayat : 1 Allah Berfirman : “ Sesungguhnya telah dekat hari Qiamat, dan bulanpun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)”.

Ada terjemahan yang berbeda : Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. (QS Al Qomar (54): 1). Dalam catatan kaki dari terjemahan al Qur'an Departemen Agama RI, ditulis: Yang dimaksud dengan saat di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan "terbelahnya bulan" ialah suatu mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Ada juga hadis yang meriwayatkan di antaranya :

  1. Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Bulan terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah saw., lalu Rasulullah saw. bersabda: Saksikanlah oleh kalian. (Shahih Muslim No.5010)
  2. Hadis riwayat Anas ra.: Bahwa penduduk Mekah meminta kepada Rasulullah saw. untuk diperlihatkan kepada mereka satu mukjizat (tanda kenabian), maka Rasulullah saw. memperlihatkan kepada mereka mukjizat terbelahnya bulan sebanyak dua kali. (Shahih Muslim No.5013)
  3. Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.: Sesungguhnya bulan pernah terbelah pada masa Rasulullah saw.. (Shahih Muslim No.5015)

Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur'an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ??Di bawah ini adalah kisahnya: Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut: Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur'an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, "Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya.

Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta'alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan,"

Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!" Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?"Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali".

Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:
Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, "Ini adalah sihir yang terus-menerus", dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ....sampai akhir surat Al-Qamar.

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, "Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??"

Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati."
Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur'an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur'an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah...

Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS.

Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, " Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna". Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, "Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget danberkata, "Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?" Mereka pun menjawab, "Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, "Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab,

"Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!! Presenter pun bertanya, "Bagaimana kalian bisa yakin akanhal itu?" Mereka menjawab, "Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, "Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali".

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, "Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, "Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad SAW 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin. Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah ... Maka aku pun berguman, "Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur'an dan aku baca surat Al-Qamar, dan saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Sumber :
http://www.dudung.net/artikel-bebas/bulan-pernah-terbelah-.html
http://www.al-habib.info/review/gambar-bukti-bulan-terbelah.htm

Silahkan Baca Selengkapnya...

USHUL FIQIH - 'AMM

Lafazh ‘amm mempunyai tingkat yang luas, yaitu suatu makna yang mencakup seluruh satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu.

“Setiap lafazh yang mencakup banyak, baik secara lafazh maupun makna” (Hanafiyah), “Suatu lafazh yang dari suatu segi menunjukkan dua makna atau lebih” (Al-Ghazali), “Lafazh yang mencakup semua yang cocok untuk lafazh tersebut dalam satu kata” (Al-Bazdawi).

Suatu lafazh ‘amm yang disertai qarinah (indikasi) yang menunjukkan penolakan adanya takhsis adalah qath’i dilalah, dan yang disertai qarinah yang menunjukkan yang dimaksud itu khusus, mempunyai dilalah yang khusus pula.

Menurut Hanafiyah, pada lafazh ‘amm itu, kehendak makna umumnya jelas, tegas dan tidak memerlukan penjelasan, oleh karena itu Hanafiyah tidak mewajibkan tertib dalam berwudhu, karena dalam Al-Maidah ayat 6 sudah cukup jelas dan tegas tidak memerintahkan tertibnya berwudhu. Sedangkan Jumhur Ulama mewajibkan tertib dalam berwudhu berdasar hadis:

“Allah tidak menerima sholat seseorang sehingga ia bersuci sesuai tempatnya (tertib pelaksanaannya), maka hendaklah ia membasuh wajahnya kemudian dua tangannya”. Hadits ini menunjukkan keharusan tertib dalam berwudhu, sementara menurut Hanafiyah, tertib itu hanya sunat mu’akadah saja.

Sedangkan Imam Malik, tidak selamanya menjadikan khabar Ahad dapat mentakhsis lafazh ’amm Al-Qur’an walaupun memandang lafazh ‘amm Al-Qur’an adalah zhanni. Ia kadang-kadang berpegang pada lafazh ‘amm Al-Qur’an dan meninggalkan khabar ahad, namun kadang-kadang mentakhsis lafazh ‘amm Al-Qur’an dengan khabar Ahad. Seperti :

“Dan Allah menghalakan (menikah) selain itu (yang telah disebut)” ditakhsis dengan hadits “Wanita yang dilarang dinikahi, adalah bibinya, baik dari pihak ayah maupun ibu.”

Khabar Ahad yang dapat digunakan untuk mentakhsis lafazh ‘amm Al-Qur’an menurut Imam Malik adalah Khabar Ahad yang didukung oleh perbuatan penduduk Madinah atau dengan Qiyas.

Menurut Hanafiyah, bila lafazh ‘amm dan khas itu berbarengan waktu turunnya, maka lafazh khas dapat mentakhsis lafazh ‘amm. Apabila berbeda waktu, maka berlaku konsep masakh mansukh. (http://suherilbs.wordpress/fiqih/ushul-fiqih/)

Silahkan Baca Selengkapnya...

Mengobati Hati Dengan Dizkir

Dalam hidup ini memang tak pasti. Kadang hati kita sekarang lagi bahagia besok belum tentu. Karena manusia di beri nafsu dan akal oleh Allah SWT. Dan di dunia ini banyak faktor yang bisa membuat hati kita tidak tenang, Dan ketenangan batin itu juga sangat penting. Lalu bagaimana batin kita biar menjadi tenang? yaitu dengan berdizkir. Allah SWT mengajarkan kepada kita semua bagaimana langkah kita agar mendapat ketenangan hati, yaitu dalam Qs. Ar-Rad ayat 28 yang artinya "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. 13:28)

Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berdizkir / mengingat Allah. Waktu itulah yang seharusnya kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Berdizkir atau menginggat Alah tidak hanya di sholat saja. Namun setiap gerak-gerik kita di haruskan selalu mengingat Allah. Setiap hembusan nafas kita seharusnya di sertai dengan dizkir kepda Allah.

Orang yang mengenal Allah dengan mendalam, maka hatinya selalu tertuju kepada Allah dan hatinya akan menjadi tentram. Apapun yang dia lihat, ia denggar, dan ia rasakan akan selalu di hubungkan dengan sang pencipta-Nya, Yaitu Allah. Dalam Al- Qur'an yang artinya : "Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."(QS. al-Baqarah : 284).

Dalam Al-Qur'an juga di jelaskan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi selalu juga bertasbih. Tada ayat Tersebut yang Artinya : "Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."(QS.ash-Shaff : 1).

Jadi biar hati kita menjadi tenang, tentram dan tidak selalu merasakan gelisah, mari kita perbanyak Dzikir kepada Allah. Semoga Allah selalu melindungi kita dan menunjukkan jalan terhadap semua masalah.

Silahkan Baca Selengkapnya...

Puasa Syawal : Puasa Seperti Setahun Penuh

Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ …

“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)

Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.

Dianjurkan untuk Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)

Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.

Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.

Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)

Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih Dahulu


Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.

Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)

Catatan
: Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.

Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan). Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!

Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa Sunnah

Permasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)

Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.

5 Syawal 1428 H (Bertepatan dengan 17 September 2007)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber:www.muslim.or.id



Silahkan Baca Selengkapnya...

Minal Aidzin Wal Faidzin





Allahuakbar...Allahuakbar...Allahuakbar...Laillahaillallahu Allahuakbar
Allahuakbar Wallillahhilham...

Taqobalallahu Mina Wa Minkum, Taqobala Yakarim.

MinalAidzin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

http://2.bp.blogspot.com



Silahkan Baca Selengkapnya...

I'tikaf Pada 10 Terakhir Bulan Ramadhan

Dari segi bahasa i'tikaf ialah berdiam diri, dan itu dapat dilakukan dimana saja. Kemudian oleh Islam secara khusus hal itu diartkan berdiam diri di mesjid untuk beribadah kepada Allah mencari keridhaan Allah SWT.(www.geocities.com)

Dasar hukum iktikaf adalah Alquran dan hadis. Dalam Alquran dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 125 yang artinya: ''...Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i'tikaf, yang rukuk dan yang sujud.'' Dan ayat 187 yang artinya: ''...kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri'tikaf dalam masjid...''

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar bin Khattab, Anas bin Malik, dan Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq dijelaskan sesungguhnya Nabi Muhammad SAW melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sejak Nabi Muhammad SAW datang di Madinah sampai Nabi SAW wafat. Berdasarkan dalil-dalil tersebut, para ulama antara lain dari Mazhab Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hanbali sepakat tentang adanya iktikaf.(www.republika.co.id)

Dalam kitab sahih muslim, Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa Nabi saw. selalu iktikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadan.
Iktikaf bertujuan membersihkan hati pada waktu-waktu tertentu karena Allah SWT, melepaskan diri dari kesibukan keduniaan dengan menyerahkan diri kepada Allah SWT dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengharap rahmat-Nya.

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Adalah Rasulullah saw. jika telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, beliau menghidupkan malam (untuk beribadah), membangunkan istri-istrinya, bersungguh-sungguh (dalam ibadah) dan menjauhi istri.(http://hadith.al-islam.com)

Umat islam di ponorogo juga banyak yang pada 10 malam terakhir di bulan ramadhan juga berbondong-bondong tengah malam mengunjungi masjid-masjid. Kebanyakan mereka adalah pergi ke desa Tegalsari Kecamatan Jetis, untuk mencari ketentraman lahir dan batin, karena di sana ada masjid yang merupakan peninggalan Kyai Ageng Hasan Besari, seorang ulama besar yang hidup sekitar tahun 1742, pada jaman pemerintahan Suna Pakubuwono II.

Silahkan Baca Selengkapnya...

Ngabuburit

Ngabuburit, apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata ngabuburit.Kata ini sangat populer sebenarnya, apa lagi di bulan puasa seperti ini, kata ngabuburit sering di sebut-sebut. Misalnya bagi sang pasangan mengajak kekasih hatinya menghaabiskan waktu untuk menjelang buka puasa, contohnya SAYANK...WAKTU BUKA MASIH LAMA NGABUBURIT YUK??? heheheh misalnya. Sering kita ucapkan sebernya. Spakah semua sudah tahu arti sebernya? Lalu apa arti kata itu? jangan hanya sekedar mengucap saja lalu tidak tau artinya. Dari pada nanti ada yang tanya secara detail tidak bisa mempertahan kan pendapat kita mending kita cari tahu dulu apa arti sebernya. Pepatah mengatakan sedia payung sebelum hujan.

Setelah saya sendiri jelajah ke rumah tetanga yaitu, yaitu rumahnya kang anang ternyata Ngabuburit itu berasal dari bahasa sunda, burit artinya waktu menjelang malam hari atau waktu Maghrib.
Jadi ngabuburit selama bulan puasa ini adalah menunggu atau menghabiskan waktu hingga menjelang waktu Adzan Maghrib datang, yaitu saat berbuka puasa. Populer banget istilah ini di kalangan masyarakat khususnya pada bulan puasa seperti saat ini.

Orang-orang banyak melakukan ngabuburit dengan kegiatan yang bermacam, seperti jalan-jalan, ngegame, ke warnet, maen sama teman, dll. Saking senang hatinya sehingga lpa akan rasa lapar dan haus. Tahu-tahu sudah waktunya buka. Sebenarnya ngabuburit yang jelas menguntungkan dan mendapat hadiah dari Allah, atau pahala dari Allah yaitu kita bisa mengisinya dengan berdizkir, membaca Al-qur'an, pokoknya melakukan amalan-amalan yang Allah meridhoi Nya. Karena bulan romadlon ada lah bulan yang penuh maghfiroh. Allah melipatgandakan pahala bagi mereka yang mau beramal soleh.

Apa yang kita lakukan saat ngabuburit? Apakah ngabuburit kita menjadikan Allah ridho kepada kita, atau sebaliknya? Semoga saja ngabuburit kita mendapatkan ridho Allah. Dan semoga puasa kita bisa satu bulan penuh. Amin...Buat yang suka ngabuburit met ngabuburit aja yua....


Silahkan Baca Selengkapnya...

Jadwal Imsakiyah ramadhan 1430 H Wilayah Ponorogo, Pacitan, Madiun, Magetan, Dan Ngawi

Selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan 1430 H.

Sudah masuk bulan puasa atau ramadhan namun belum mempunyai jadwal sholat atau jadwal imsyakiyah ramadhan pada tahun 1430 H, saya mengutip dari stain ponorogo bahwa Laboratorium Hisab Ru’yat Jurusan Syari’ah STAIN PONOROGO menyampaikan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1430 H untuk wilayah Ponorogo, Pacitan, Madiun, Magetan, dan Ngawi. Untuk jadwalnya silahkan klik di sini. Dan untuk daerah di luar ponorogo dan sekitarnya juga bisa kunjungi di sini. Semoga bermanfaat.

Silahkan Baca Selengkapnya...

Tanda 99 (Asmaul Husna) Pada Telapak Tangan Kita

Tahukah sahabat kebesaran Allah di tangan kita, garis utama kedua telapak tangan kita bertuliskan dalam angka Arab yaitu :
|/\ pada telapak tangan kanan, artinya : 18, dan
/\| pada telapak tangan kiri, artinya : 81

Jika kedua angka ini dijumlahkan, 18+81 = 99
99 adalah jumlah nama/sifat Allah, Asmaul Husna yang terdapat dalam Al-Quran. Bila 18 dan 81 ini dirangkaikan, maka terbentuk angka 1881. Angka ini adalah angka kelipatan 19 yang ke-99 ( 19 x 99 = 1881 ).Seperti diketahui angka 19 adalah fenomena tersendiri dalam Al-Quran, yang merupakan bukti kemukjizatan al-Quran.

Begitu juga pada ruas-ruas tulang jari (tapak tangan maupun telapak kaki) sahabat, terkandung jejak-jejak nama Allah, tuhan yang sebenar pencipta alam semesta ini. Silakan perhatikan salah satu tapak tangan anda (bisa kanan bisa kiri). Perhatikan lagi dengan seksama:

Jari kelingking ==> membentuk huruf alif
Jari manis, jari tengah, & jari telunjuk ==> membentuk huruf lam (double)
Jari jempol (ibu jari) ==> membentuk huruf ha’

Jadi jika digabung, maka bagi anda yang mengerti huruf Arab akan mendapati bentuk tapak tangan itu bisa dibaca sebagai Allah (dalam bahasa Arab).

Maka benarlah firman Allah SWT :
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat 41:53)


Silahkan Baca Selengkapnya...

Fadilah Surat Al - Waqi'ah

Surat Al - Waqi'ah ini pada Al Qur'an terletak pada urutan surat ke-56 dan terdapat 96 ayat. Amalan ini bagus untuk menarik rezeki,

Cara nya:

  1. Sholat hajat pada malam hari
  2. Istigfar 100x
  3. Shalawat nabi 1000x( pakai sholawat pendek aja)
  4. Do'a (Ya ALLAH yang maha pengasih dan pemberi rahmat. Aku meminta dengan Keutamaan dan kebesaran surah Al waqiah ini. maka bukakanlah rezeki ku yg ada di langit, di bumi dan di laut).
  5. Baca surah al waqiah 1 x
  6. Lakukan selama 40 malam. Insya ALLAH akan terlihat hasilnya.

Catatan: selama 40 hari itu sholat lima waktu jangan tinggal.

http://bedouinz.terapad.com

Silahkan Baca Selengkapnya...

WAKTU-WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA


Disamping Alloh dan Rosul-Nya memberi tuntunan mengenai syarat dan tata cara berdoa, Alloh dan Rosululloh juga memberitahu tentang waktu-waktu yang baik dan mustajab untuk berdoa memohon kepada Alloh Swt. Di antaranya adalah:

  1. Pada waktu tengah malam
  2. Sesudah Adzan
  3. Sesudah Sholat Wajib
  4. Pada hari Jumat
  5. Pada hari Arofah
  6. Di Bulan Romadlon
sumber: http://one.indoskripsi.com

Silahkan Baca Selengkapnya...

DO’A MASUK WC

- (بِسْمِ اللهِ) اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Artinya:

.“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan perempuan”.

Silahkan Baca Selengkapnya...

DO’A KETIKA MENGENAKAN PAKAIAN BARU

- اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِن ْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.

Artinya:
.“Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang ia diciptakan karena-nya”.

Silahkan Baca Selengkapnya...

Jangan Lupa Kunjungi Di Bawah Ini

Follow

Komentar Terbaru

ASPIRASI © 2008 Template by Dicas Blogger Supplied by Best Blogger Templates

Back To Top